Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya. – Mazmur 116 : 15
Apa yang selalu kita ucapkan kalau kita mengantar seseorang pergi? Misalnya : ibu mengantar anaknya sekolah, atau istri mengantarkan suaminya pergi kerja. Kita tidak pernah mengucapkan ‘Selamat Tinggal’. Yang kita ucapkan adalah ‘Sampai nanti ya’ atau ’sampai ketemu lagi’. Kita ucapkan itu, karena kita tau apa yg kita harapkan, yaitu bertemu kembali dengan mereka yg kita antar pergi.
Begitu juga dengan kematian. Bukan selamat tinggal, tapi sampai nanti. Karena semua orang akan menemui waktunya, dan sekarang adalah saatmu kembali ke pangkuan-Nya yul.
Dari kemarin sore, begitu mendapat kabar tentang kepergianmu, banyak pertanyaan timbul di pikiran. ‘Kenapa Tuhan? yuli masih muda, baru juga menikah. Masih banyak cita-cita’ atau ‘Kenapa ga sembuh? Kita kan sudah doain..’ dan pertanyaan2 kenapa lainnya.
Di ibadah tutup peti tadi, semuanya udah terjawab yul. Lewat kotbahnya pak iwan : ‘Rancangan Tuhan bukan rancangan kita manusia karena rancangan-Nya lebih tinggi dari rancangan kita. Semua yg terjadi adalah yg terbaik’. Suamimu Stephen juga bilang, ‘ini jawaban yg terbaik karena yuli ga bakal kesakitan lagi’. Dan sekarang aku yakin seyakin-yakinnya, ini adalah yg terbaik buatmu yul. Aku bersyukur melihat stephen begitu tegar tadi di ibadah. Aku tau dia masih sangat sedih, tapi aku melihat kepasrahannya sama Tuhan. Dan itu sudah cukup, karena Tuhan pasti menyertai stephen melewati ini semua.
Hidup akan terus berjalan bagi kami yg masih ‘tertinggal’ disini, dan dirimu akan ada dalam kenangan kami. Kenangan yg akan kuingat dengan tersenyum, karena kau sudah tenang disana. Jadi, selamat jalan yul, sampai nanti kita bertemu lagi. Titip salam buat Bapa di surga ya
This is for my peoples who just lost somebody
Your best friend, your baby, your man, or your lady
Put your hand way up high
We will never say bye
Lift your head to the sky ’cause
we will never say bye
Untuk semua hal yg telah dilewati di tahun 2008.
Saat senang, sedih, bingung, kecewa, sendiri, sepi, kesal, menangis, tertawa, tersenyum, merengut, marah, semuanya. Terimakasih Tuhan, karena aku tahu Engkau selalu ada disana.
Terimakasih Tuhan, karena di tahun yg baru ini pun, aku percaya, Engkau juga ada disana, bersamaku di saat apapun.
Selamat datang 2009. Tahun yang baru, kesempatan baru, rencana, mimpi, dan harapan yang baru.
From the rising of the sun unto the going down of the same the Lord’s name is to be praised.
But when the time had come,
God sent out his Son,
made of a woman, made under the law,
That he might
make them free
who were under the law, and that we might be given the place of sons.
And because you are sons, God has sent out the Spirit of his Son into our hearts, saying, Abba, Father.
So that you are
no longer a servant, but a son;
and if a son, then
the heritage of God is yours.
Merry Christmas to you…!
Tiba-tiba teringat saat teduh beberapa hari yang lalu. Akibat tadi habis jalan-jalan. Dan kok ya mau natalan gini, semua pada lomba-lomba bikin sale.
Orang berkelimpahan adalah orang yang suka MEMBERI, bukan suka MEMBELI.
Gyahaha!! Camkan ya hatiku. Camkan baik-baik itu, supaya tidak gampang luluh saat melihat tulisan SALE segede-gede gaban akhir-akhir ini
Let him that stole steal no more: but rather let him labour, working with his hands the things which is good, that he may have to give to him that needeth
“Faith opens the door to God’s promise for you; and patience keeps it open until that promise is fulfilled”
I really love that quote! Quote-nya diambil dari Faith-to-Faith-nya KCM hari ini, dimana hari ini membahas salah satu ayat favoritku sepanjang masa hehehe
Yaak, jadi segar lagi
“Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.
Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.”
Masukkan kata sandi anda untuk melihat tanggapan
Ga bisa tidur lagi! Daripada bengang bengong ngelongo ga jelas, saya ambil Alkitab dan saya baca.
Lukas 8. Saya baca pelan-pelan hingga sampai di bagian angin ribut diredakan.
Dikisahkan Tuhan dan murid-murid akan naik perahu menyebrang danau ke Gerasa. Di perahu, Tuhan tidur (hmm, Tuhaan bagi tipsnya dong biar gampang tidur
).
Tiba-tiba angin ribut datang.
Perahu kemasukan air! Dalam bayangan saya, setiap orang disana masing-masing memegang ember/gayung/apapun itu untuk mengeluarkan air dari perahu.
Suasana heboh.
Murid-murid panik.
Dan Tuhan dibangunkan.
Entah oleh siapa, dengan perkataan : “Guru, Guru, kita binasa!” (dalam versi New Living Translation-nya : “Master, Master, we are going to drown!”)
Tuhan pun bangun, lalu meredakan angin ribut. Kemudian Ia berkata : “Di manakah kepercayaanmu?”
Dan saya bertanya. Kenapa Tuhan sepertinya marah? Memang, sebelum kejadian ini murid-murid sudah mengikuti Tuhan kemana-mana. Dan banyak terjadi mujizat. Tapi belum ada kondisi yg seperti ini. Jadi buat saya, wajar kalau murid-murid membangunkan Tuhan. Lagipula, murid-murid juga belum diberikan kuasa apa-apa (cmiiw). Lalu, kenapa?
Saya baca bagian ini berulang-ulang. Dan akhirnya sesuatu muncul di hati saya, “hei, perhatikan apa yg dikatakan oleh murid-murid-Nya”.
Yap, saya dapat jawabannya. Tuhan tidak suka dengan perkataan mereka Tidak ada iman disana. Tidak ada pengharapan. Seakan-akan mereka sudah menyerah akan tenggelam. Padahaaal, baru saja mereka melewati hari-hari penuh mujizat. Belum lewat 1 hari malahan!
Daan, saya juga masih sering mengalami hal yg sama. Mematahkan iman dengan kata-kata sendiri. Melihat keadaan sedikit tidak mendukung, langsung mengeluh. Padahal tinggal percaya saja dengan Firman.
Dan Firman ini menegur saya. Hmmm, tepat sekali teguran-Mu Tuhan